Warung Jadoel Temanggung

Ada satu warung makan di Kabupaten Temanggung yang jika kita makan disana waktu serasa berhenti. Kita seakan dibawa ke masa lalu. Mulai dari suasananya, makanannya, sampai pernak pernik jadul yang ada didalam warung

Adalah warung “Jadul”, sebuah warung makan di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 102, Jampirejo, Temanggung. Tempatnya kecil dan sederhana. Terletak di belakang halte bus di Jalan Jenderal Sudirman. Yang menjadi warung ini begitu istimewa adalah warung ini sudah ada sejak tiga generasi lebih atau hampir kurang lebih 200 tahun dan masih setia melayani para pelanggan setianya.

Pemilik Warung Jadul, Bu Siti Sukastiah (66), meneruskan usaha kuliner setelah ibunya, Dullah mewariskannya kepada dirinya. Dahulu awalnya warung ini didirikan oleh nenek dari Bu Siti, kemudian Ibunya, dan sekarang Bu Siti.

“Jika dihitung-hitung warung ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Tiga generasi mulai dari nenek saya, kemudian Ibu saya, lalu diwariskan kepada saya,” ujar Bu Siti.



Warung Jadul Temanggung ini memang unik dan bener-bener jadul. Mulai dari bangunannya yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Jepang. Semua sudut bangunan warung masih asli dan tak pernah dilakukan perubahan. Perabotan seperti bangku panjang yang ada di dalam warung juga maish asli, terbuat dari kayu jati berusia ratusan tahun. Kemudian pernak-pernik warung seperti puluhan toples model lama. Bening dan memiliki jendul diatasnya, masih terpajang sebagai tempat menyimpan makanan.

“Bangku yang diduduki belum pernah diganti. Itu kayu jati tinggalan Jepang. Sampai jungkat jangkit tapi masih bisa dipakai. Bangunan ini juga sama seperti dahulu sewaktu nenek saya meninggalkannya 180 yahun silam, tidak pernah ditambahi atau dirubah sedikitpun,” tambah Bu Siti.

Dari menu makanannya pun masih sama, sesuai dengan resep warisan keluarga dari generasi ke generasi. Mulai dari sayur kobis, sayur tongkol, opor ayam, gudeg, hingga tahu. Begitupun dengan minumannya, teh gula jawa, kopi gula jawa, dan minuman tradisional lainnya khas Warung Jadul.

Masakannya dimasak tanpa menggunakan vetcin atau penyedap rasa atau bahan-bahan tambahan lainnya. Semua menggunakan bumbu dapur dan rempah-rempah alami. Semua masakan tersebut dimasak oleh Bu Siti.

“Semua masakan masih sama seperti saat nenek saya membuatnya. Resep ini diajarkan turun temurun,” kata Bu Siti.

Pelanggan Warung Jadul ini beragam mulai dari tukang becak, tentara, samapi pejabat tinggi. Pelanggannya pun banyak yang sudah berusia lanjut, namun tetap datang berkunjung dan makan di Warung Jadul.

“Dahulu bahkan tentara Jepang sering datang makan disini. Ada dua yang masuk, sementara yang duanya lagi berjaga. Dahulu orang Jawa kalau makan disini tidak boleh “tanduk” atau nambah. Dilarang sama Jepang, makanya orang Jawa kurus-kurus sampai sekarang,” kenang Bu Siti.

Bu Siti kini mengelola warung Jadul ini dibantu oleh anak keduanya. Anak yang satunya lagi bekerja di Kalimantan. Suaminya, Pak Moertopo sudah meninggal sejak tahun 2008 silam. Untuk masak memasak, Bu Siti mempunyai dua pegawai yang siap membantunya.

Kendati sudah tua, dirinya masih berniat mengurus warung Jadul ini. Nantinya jika sudah waktunya, warung akan diteruskan kepada anaknya. Karena menurutnya Warung Jadul ini sudah menjadi warisan budaya kuliner yang wajib dilestarikan.

“Sampai tidak kuat lagi. Saya akan mengurus warung ini. Anak saya, saya amanahkan untuk melanjutkan usaha keluarga yang sudah ada dari generasi ke generasi. Jangan sampai putus, karena warung ini juga adalah bagian dari sejarah dan warisan budaya.”

 

Sumber: tribunnews.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *